Low profile lifestyle | 3 Min read
Kelihatan kaya belum tentu kondisi finansialnya kuat!
Di tengah budaya flexing, gaya hidup sering kali menjadi ukuran kesuksesan. Mobil baru, gadget terbaru, nongkrong di tempat mahal, hingga liburan rutin seolah menjadi simbol bahwa seseorang sedang “baik-baik saja” secara finansial.
Padahal, ada satu hal yang sering tidak terlihat berapa banyak uang yang benar-benar tersisa setelah semua gaya hidup tersebut dibayar?
Di sinilah konsep low profile lifestyle menjadi menarik. Bukan berarti harus hidup serba kekurangan, tetapi memilih hidup sesuai kebutuhan, kemampuan, dan tujuan keuangan.
Baca Juga:
If you have a low profile, you purposely don't attract a lot of attention. Astate of low visibility in which public notice is avoided. “He was never one to keep a low profile”. (vocabulary.com)
Dari sisi finansial Low profile lifestyle adalah gaya hidup sederhana dan tidak berlebihan, terutama dalam menunjukkan pencapaian, kekayaan, maupun status kepada orang lain.
Orang yang menerapkan gaya hidup ini biasanya tidak terlalu mengejar validasi sosial. Mereka lebih memilih menggunakan uang untuk sesuatu yang benar-benar memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Beberapa karakteristiknya antara lain:
Sederhananya, tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli.
Budaya flexing dapat membuat seseorang terdorong mengikuti standar gaya hidup lingkungan sekitarnya.
Hari ini mengganti ponsel karena teman menggunakan model terbaru. Besok membeli kendaraan karena ingin terlihat sukses. Akhir pekan rutin nongkrong di tempat mahal agar tidak merasa tertinggal.
Jika terus dilakukan, pengeluaran kecil maupun besar tersebut dapat menggerus kemampuan menabung dan berinvestasi.
Sebaliknya, ketika seseorang tidak terlalu mengejar gengsi, selisih antara pendapatan dan pengeluaran bisa menjadi lebih besar.
Uang tersebut kemudian dapat dialihkan untuk dana darurat, tabungan, maupun investasi.
Baca Juga:
Bayangkan ada seseorang yang memiliki penghasilan bersih Rp15 juta per bulan.
Pada gaya hidup yang lebih high profile, kebutuhan pokok membutuhkan sekitar Rp6 juta. Kemudian Rp6,5 juta digunakan untuk gaya hidup dan gengsi seperti nongkrong, outfit, serta mengikuti tren.
Sekarang bandingkan dengan seseorang yang memilih low profile lifestyle.
Kebutuhan pokoknya ditekan menjadi sekitar Rp5 juta. Pengeluaran untuk gaya hidup hanya Rp1,5 juta dan tidak memiliki cicilan barang konsumtif.
Bukan karena penghasilannya lebih besar, tetapi karena cara mengelola penghasilannya berbeda.
Ini bagian yang penting! Menjalani hidup sederhana bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja keras. Kamu tetap boleh makan enak, membeli barang yang disukai, liburan, atau menikmati hobi.
Yang perlu diperhatikan adalah proporsinya. Jangan sampai keinginan untuk terlihat sukses justru membuat kondisi finansial menjadi rapuh.
Punya mobil bagus boleh. Punya gadget terbaru juga boleh. Nongkrong di tempat mahal sesekali juga tidak masalah.
Namun, jangan sampai semua itu dibayar dengan utang konsumtif atau mengorbankan dana darurat dan investasi.
Kondisi finansial yang sehat tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, daripada sibuk membuktikan kepada orang lain bahwa kita mampu, lebih baik memastikan bahwa diri sendiri benar-benar mampu secara finansial.
Mulai dari hal sederhana: kurangi pengeluaran yang tidak penting, hindari cicilan konsumtif, bangun dana darurat, dan sisihkan uang secara rutin untuk investasi.
Tidak harus terlihat kaya. Yang penting, kondisi keuangan benar-benar sehat.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: